Sebelum Alia sempat bangkit untuk menarik ke atas celananya, Aku menubruknya dan merebahkan punggungnya ke kasur.“Mas..!”
Bibirnya kulumat. Bokep Jilbab/Hijab Tangannya berhenti mengelusi kelaminku lalu Alia bangkit berdiri. Kesadaranku berangsur pulih. Aku sedikit gugup. Inilah tubuh yang beberapa hari terakhir ini terus tertutup walaupun banyak kali aku ‘menyuntik’ maniku. Ngobrol, berbelanja, berkiriman dokumen, cari informasi apapun, semuanya dapat dilakukan tanpa beranjak dari rumah. Ketika Aku bilang ke Alia tentang perasaan ini, ternyata dia mengalami hal yang sama. Kembali kami menyatukan tubuhku yang bugil dengan tubuhnya yang masih berpakaian lengkap. Kesadaranku berangsur pulih. Inilah saat yang kutunggu-tunggu. Pengin banget, tahu. Aku masih menikmati pemandangan indah ini. Kami masih bertindihan, penisku masih di dalam tubuhnya. “Mana celana gue,” tagihnya. Mungkin belum saatnya, aku harus bersabar.Ciuman dengan posisi begini tak nyaman juga. Tak sekedar melepas rindu memuaskan hasrat cinta, tapi juga hasrat yang lain.“Iya ngerti musti ngumpul, tapi sesekali boleh dong minta izin nginap di rumah famili, gitu.”
Alia diam.




















