Sampai di pangkal pahaku, entah sengaja atau tidak, jempol tangannya menyentuh-nyentuh biji pelirku. Bokep “Punggungnya lagi dong Yen.”
Yeni menduduki pantatku lagi, bulu-bulu kelaminnya terasa banget mengelusi pantatku. Penisku yang tegang terjepit, mengulas minyak ke punggungku, lalu mulai mengurut. Buah dadanya yang mengkilat berlumuran minyak sering menggelincir di tubuhku. Tubuh lumayan tinggi, pinggang ramping paha bersih panjang, dadanya… wow! Pijit, service, main? Aku masih menebar pandangan lagi jangan-jangan ada yang lebih bagus terlewat dari penelitianku.“Sama saya aja Mas, nanti ‘dibody’ sebelum main, mau karaoke juga boleh,” kata pengawalku tiba-tiba. “Kenapa?”
“Gak usah banyak tanya, cobain aja.”
Untungnya, seleraku memang dada yang berisi. Pakaian yang mereka kenakan, terbuka dada dan paha, membantuku untuk lebih cepat menentukan pilihan. “Kamu dari mana Yen?”
“Cirebon, Mas.”
Selesai di pinggang dan punggungku, Yeni lalu melepas celdamku sambil bilang maaf. “Buka semua dong,” pintaku. Yeni membimbingku menuju lorong. Anda jangan coba menimbang-nimbang begini kalau lagi ramai, bisa-bisa pilihan Anda disambar tamu lain. Ehemmmm …!












