Nggak tahu ya kenapa, tiba-tiba saja mogok”, sahutnya sambil memandangiku penuh Curiga. Bokep Montok “Terima kasih Nyonya. Kurang..?”, tanyanya. Selembar ijazah SMP yang kubawa dari desa, ternyata tidak ada artinya sama sekali di kota ini. Ragu-ragu aku memegang pinggangnyaNyonya Wulandari membawaku ke pembaringannya yang besar dan empuk Dia melepaskan baju yang kukenakan, sebelum menanggalkan penutup tubuhnya sendiri. Kesempatan bagiku untuk kabur dan rumah neraka ini. “Terus, tujuannya mau kemana?” tanyanya lagi. Saat itu kedua mata Nyonya Wulandari terpejam. Dan terus menekan pinggulku dengan kakinya hingga batang kebanggaanku melesak masuk dan terbenam ke dalam telaga hangat yang menjanjikan berjuta-juta kenikmnatan itu. Letaknya bersebelahan dengan dapur. Karena sudah basah oleh keringat. Tidak lagi menempati kamar yang khusus untuk pembantu.Semua bisa terjadi ketika malam itu aku baru saja mengantar Nyonya pergi berbelanja. Itupun hanya sekali saja dalam sehari.Di bawah kerindangan pepohonan, aku memperhatikan mobil-mobil yang berlalu lalang.




















