Seorang perempuan paruh baya mengenakan kain panjang atau jarit menghampiri aku dan langsung duduk di kursi dekat aku.“ Mau pesen apa mas?” tanyanya. Bokep Montok “Lho kata mbak Ambar tadi, “Ini” ongkosnya tigaratus, kalau 4 kali berarti satu koma dua toh,” kataku.“Lho kalau dikasi sigitu, saya ya matur nuwun, tapi kalau dikasih lebih masak iya saya nolak mas,” kata Amei.Ah sialan, aku terjebak oleh pertanyaanku sendiri. Dia menyalamiku dan duduk di depanku. Suasananya teduh dan khas kampung-kampung Jawa, tenang ada suara-suara burung perkutut dan gending yang mungkin dikumandangkan dari radio atau rekaman secara samar-samar.Aku berdebar-debar juga mendatangi tempat tersebut. Nikmat sekali rasanya dipijat.Aku mulai sadar bahwa rasanya kulit pungungku bersentuhan langsung dengan kulit Amei, dan terasa ada bulu-bulu nempel di punggungku. Mereka seperti bergantian.Sebagian memang suaminya tidak tau, tetapi sebagian lagi menurut Amei datangnya di antar suami dan nanti sore dijemput lagi. Jadi tamunya baru aku sendiri.




















