Lina menggeleng lembut. “Apakah pikiran kita sama?”Kali ini Lina mengangkat wajahnya mencoba menatapku. Bokep Mom Lina membalikkan tubuhnya, rambutku dijambak, ditarik ke arah vaginanya. “Kamar 306 kan?”
“Betul Mbak..”
“Saya ke sana?”
“Saya tunggu Mbak..”
“Krekk!”, telepon ditutup. Telepon berdering, ternyata co-pil dari pesawat lain yang ternyata temanku, juga nge-RON (Rest Over Night) di tempat yang sama. Ardi seorang pramugara senior yang tak kalah gila dengan para captain ‘girang’. Tubuhnya indah sekali deh, pinggangnya ramping, kakinya indah.Sejenak aku tercekat, ada sedikit sesal jika membohongi manusia secantik ini ada juga remang di bagian belakang leherku. Malam ini kebetulan tidak ada “tamu penting” katanya. “Katanya, dia tertarik kaos kamu, dia nanya itu kaos joger apa bukan..”
Memang, kebetulan aku memakai kaos joger hijau tua bertuliskan: “Ma’af anu saya cuma ‘L’ “
“Cakep nggak Lex? Frank yang hobby bobok masih menjadi bosku, di dampingi seorang pramugari montok bernama yuni dan pramugara gebleg bernama Ardi. “Kepalang tanggung”, begitu pikirku pada akhirnya. Lina terus menggelinjang, lenguhannya menambah semangat




















