Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam dengan suasana panas menyengat. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Bokep Montok Sayur sop rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin tak ketulungan.“Ummi… Ummi, kapan kamu dapat memasak dengan benar? “Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. berember-ember. Dug! Duh, betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini, makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. “Ah, betapa manisnya wajah istriku ketika sedang kegirangan… kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?” sesal hatiku.******Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Hati ini menjadi luruh. Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Ucap isteriku kalem.“Iya. Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu.




















