Meski aku tetap bertanya dalam sesalku, “Mungkinkah Mas Iky akan sanggup menikahiku yang hanya seorang pembantu rumah tangga?”Sekitar pukul 19.30 malam, barulah rumah ini tak berbeda dengan waktu-waktu kemarin. Badannya cukup berisi karena sudah biasa bekerja di sawah membantu bapaknya di kampung. Bokep SMA Pagutan dan rabaan Mas Iky ke seluruh tubuhku, membuatku pasrah dalam rintihan kenikmatan yang kurasakan. Tetapi bukan sekarang. pertanyaan ini benar-benar membuatku seolah gila dan ingin menjerit sekeras mungkin. Sudah dua hari anak kampung yang baru 16 tahun itu bekerja. Kamu mau mencintaiku kan..?” Aku terdiam tak mampu menjawab sepatah katapun.Mas Iky menyeka butiran air bening di sudut mataku, lalu mencium pipiku. Dengan lirih dia berucap, “Kamu sudah capek seharian bekerja, Sienny.




















