Setelah makan, seperti biasa aku dan Kak Tina
menuju kamar kami. Bokep Mama Bukan, beliau orang baik (sampai
sekarang aku selalu mengingatnya, ayah angkatku itu). Kejantananku yang semakin matang
terasa mengeras, apalagi karena aku memang ingin pipis. Memandanginya. Dan
akhirnya Kak Tina pun menikah, lalu berhenti kerja. Samar-samar
kuamati ada sekumpulan rambut di sana. Hanya aku dapat warisan dari Kak Tina. Dia sudah lama tinggal
dengan Pak Rochim. Jantungku berdebar kencang. Jantungku berdebar kencang. Kelihatannya dia lega aku tak memergokinya. Apalagi kalau
novel-novel erotiknya.,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Erangannya berubah menjadi jerit tertahan. Rasa
penasaranku makin bertambah. Kuambil Nick Carter. Sesekali aku ingin juga membaca novel lainnya, tapi Kak Tina tak
pernah mengijinkan aku menyentuh apa lagi membaca novel-novel itu. Rasanya nikmat, nikmat
sekali. Terkadang kupikir Kak
Tina tahu, tapi dia membiarkan saja. Sana urus sapi”, Kak Tina menepuk bahuku sebelum dia bilang, “Astaga…, kamu ngompol ya, Sapto?”. Yang
kulihat di sana sungguh luar biasa, dan tak akan pernah kulupakan. Segera saja aku berlalu ke kamar
mandi untuk pipis.




















