Mbak nila sudah kuanggap mbakku sendiri, begitu pula mas sofyan dan gibran yang sudah kuanggap mas dan ponakanku sendiri, jadi mana tega aku berbuat macam-macam terhadap mbak nila. Bokep Jilbab/Hijab Penyesalan yang kurasakan membuat dadaku sesak hingga tak bisa bernafas.“Maafkan saya mas sofyan, gibran.. mbaaaaaakkkkkkk…”Sekejap mbak nila kembali mengejang kaku, empotan memeknya membuatku luluh lantak. Ia tahu aku sensitif orangnya, jadi sesekali iya menggelitiki pinggangku yang membuatku menggeliat seperti kesetrum.“Eh! Matanya yang kini juga tak kalah sayu dariku, membalas tatapanku lembut.“Enak ga..?” Tanya nya dengan suara lirih. Aku minta maap ya tadi pulang sendiri, terpaksa lembur nih karena banyak kerjaan.” Tegurku.“Eh don, baru pulang yah? Mana sini piringnya..”Akupun membuka pintu dan menyerahkan piring kotor tadi dan kemudian segera balik badan merebahkan badan lagi di kasur berusaha memejamkan mata.“Masih puyeng yah? Lama lama aku jadi tak tahan juga, kuputuskan untuk menggigit bibirku saja daripada nanti malah kecolongan mendesah, bisa malu aku jadinya.Namun mbak nila malah jadi makin gemas,




















