Kedua tangan Lia mencengkeram erat ujung meja yang berada di belakangnya.“Suka sayang?”.“Su… suka banget, yang ken… kenceng Pak!”.“Yang kenceng?”.“Iya… kocoknya yang kenceng oooh…”.Menyadari kalau saat ini mereka sedang berada di kantor, Lia berusaha sekuat tenaga untuk menahan teriakan penuh kenikmatan yang keluar dari mulutnya. Sebuah kecupan kemudian mendarat mulus di bibir mungil si wanita cantik.“Mau diliat aja nih Pak? Vidio XNXX He he”.“Mau dicium…”.Pak Wid pun langung mendekatkan bibirnya ke bibir Lia, namun wanita cantik itu menghentikannya.“Tapi ciumnya nggak di sini”, Lia menunjuk ke arah bibirnya.Pak Wid mengerutkan keningnya. Kini terlihatlah dengan jelas sebuah lubang kenikmatan dengan bulu-bulu halus tipis di sekitarnya.Lubang kenikmatan yang selalu mampu membuatnya terbang melayang. Namun rupanya rasa nikmat seakan sudah menyerang hampir sekujur syaraf tubuhnya, sehingga ia tak kuasa untuk bertahan.




















