Aku menutup bagian depan celanaku yang basah dengan tas sekolahku. Bokep Tante Kita baca sama-sama”. Naluriku menyuruhku untuk
menekan punggungku ke dadanya. Baju kaos itupun tersingkap bagian
atasnya, menampakkan dadanya yang kemarin malam aku sentuh. Sepatu-sepatu
terjatuh menimbulkan suara berisik. Pak Rochim tak pernah mengambil pembantu lagi. Jantungku berdebar kencang. Kali ini sensasi yang kurasakan tidak hanya dada Kak
Tina yang menekan punggungku, juga sebentuk gundukan hangat di pangkal
pahanya menyentuh pantatku. Kak Tina
tak pernah lupa mengunci lemarinya. Terkadang mengelusnya,
terkadang mengusap sampai ke pangkal pahaku. Serentak kami berdiri. Terkadang kupikir Kak
Tina tahu, tapi dia membiarkan saja. Kelihatannya dia lega aku tak memergokinya. Kubolak-balik halamannya, ada bagian yang ditandai. Dalam tidur aku bermimpi. Dia tidak melarang. Aku saat itu berusia hampir 16 tahun. Astaga, memang basah! Akupun keluar kamar, menyongsong dirinya. Dia tidak melarang. Kak Tina tidak ada di rumah. “Bangun! Kak Tina tidak ada di rumah.




















