Aku memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Bokep Rusia Jagain sebentar ya..!”Ya itulah kabar gembira, karena Wien lalu mengangguk.Setelah mengunci salon, Wien kembali ke tempatku. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Toh masih ada hari esok.Aku bergegas naik angkot yang melintas. Yes. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Ah.., selangkanganku disentuh lagi, diremas, lalu ia menjamah betisku, dan selesai.Ia berlalu ke ruangan sebelah setelah membereskan cream. Tetapi aku masih betah di atas mobil ini. Atau jangan-jangan ia tidak masuk ke salon ini, hanya pura-pura masuk. Junior berdenyut-denyut. Mbak Wien sudah turun. Ia menyenggol kepala juniorku. Kadang-kadang ketimun. Aku tahu di mana ruangannya. Tangannya halus. Haruskah kujawab sapaan itu? Baru saja aku memasang ikat pinggang, Wien menghampiriku sambil berkata, “Telepon aku ya..!”Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya.




















