Dor ! Diarahkannya kepalaku untuk menciumi dadanya. Bokep Cina “Pake pura-pura lagi !”, kak Dewi mendorong tubuhku. Meskipun ragu aku kemudian beranjak, dan dengan bingung aku duduk disebelahnya. Saat itu waktu menunjukan pukul 9.00, suasana rumah lengang dan sepi. Setiap menjelang tidur, pikiranku melayang-layang membayangkan kak Dewi. Entahlah atau bisa kedua-duanya, soalnya TV dinyalakan tapi ia asyik membaca majalah sambil telungkup dipermadani. Kak Dewi tak urung menurut. Ia telah menjadi benar-benar liar. Kedua tangannya menangkup kepala kak Sinta. Huh ! Sambil bertanya-tanya didalam hati, aku bermaksud kembali ke kamarku. Entahlah. Memang sejak masuk kuliah, praktis segala biaya ditanggung kak Dewi.Namun dari semua kekagumanku pada kak Dewi, satu hal yang aku herankan. Dan bantal guling…, bergegas aku buka sarungnya. Kak Dewi benar-benar terhenyak. Beberapa hari kemudian setelah situasi dirumah mulai terasa normal, malam itu kak Dewi diruang tengah nonton TV atau mungkin membaca majalah. Nafas kak Dewi tersengal-sengal. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku maklum dengan apa











