Ia sungguh nampak jujur di mataku, tanpa sedikitpun usaha untuk melebih-lebihkan ceritanya. Lalu sambil membuka pintu kamarnya ia berkata, “Terima kasih yaa.. Vidio Sex Nia enak nggak?”, aku berkata lagi.“Ehh..mm”, Tania tidak menjawab, hanya tersenyum di seberang sana.Namun aku tahu pasti bahwa ia pun telah sangat menikmati ke-‘lega’-an bersamaku beberapa menit yang lalu.“Nia, kita udahan dulu yaa.. Sungguh menggelisahkan!Aku meredupkan lampu baca di kamar tidur dan menutup rapat pintunya. Ahh.. Perlahan sekali rasanya. Semakin licin, kamu semakin berdenyut, kamu menggelepar pelan..”, aku berkata demikian sambil semakin keras mengocok kejantananku sendiri.Aku meraba-raba kejantananku. Setiap kali aku mereMas, setiap kali pula gelegak itu bagai hendak meluap keluar. Kalau saja ada orang berdiri di balik pintu dan menempelkan kupingnya, niscaya ia akan mendengar erangan itu.Tangan Tania bergerak semakin cepat, sementara tangan yang satunya juga terus meremas-remas payudaranya dengan gemas.




















