Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh.Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. Bokep Thailand Garis setrikaannya masih terlihat. Aku lupa kelamaan menghitung kancing. Aku hanya main dengan tangan. Sesekali tangannya nakal menelusup ke bagian tepi celana dalam.Tapi belum tersentuh kepala juniorku. Membuatku tidak berani. Aku tidak menjepit tubuhnya. Aku tidak dapat lagi memandanginya.Kantorku sudah terlewat. Tetapi sejak tadi aku tidak melihat wanita yang lehernya berkeringat yang tadi mengerlingkan mata ke arahku.Ke mana ia? Aku duduk di belakang, tempat favorit. Hangatnya, biar begitu, tetap terasa. Aku menurut saja. Agar kejadian kemarin terulang.Jam berapa aku berangkat. Lama sekali ia memijati pangkal pahaku.Seakan sengaja memainkan Si Junior. Alamak.., jauhnya. Kini pindah ke paha sebelah kanan.Ia tepat berada di tengah-tengah. Hidungnya tidak mancung tetapi juga tidak pesek. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Bodoh, bodoh, bodoh.Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Jangan di sini..!” katanya.Kini ia tidak malu-malu lagi menyelinapkan jemarinya ke




















