Aku mencoba untuk rileks dan menghapus bayangan dan pikiran yang merangsang. Kulihat Ida di bawah selimut, tahap bahunya terbuka. Bokepindo Harumnya eau de toilette tetap tercium. Akhirnya kami masuk ke dalam bioskop, kemudian film mulai diputar. Aku hanya pasif saja, sesekali membalas mendorong lidahnya. Aku kembali terangsang dengan cepat oleh aksinya. Tapi setiap gerakanku rutin kubuat agak tinggi jadi penisku terlepas dari vaginanya, lalu kutekan lagi. Badanku berbagai kali menggigil. Oooh” pintanya. Ida terengah-engah menikmati kenikmatan yang dirasakannya. Ia menuangkan sedikit baby oil ke tangan kanannya dan kembali mengurut senjataku. “Kemana Pak? Aku tidak tahan dengan aksinya jadi kutarik mukanya ke mukaku. Kupacu kuda betinaku mendaki lereng kenikmatan. Ida terus merapat. Puting dan payudaranya terus kencang dan keras.




















